The Latest

Apr 20, 2014

Pandawa

Pandawa

Minggu, 20 April 2014 | 00:44 WIB

Putu Setia

@mpujayaprema

Pandawa Lima tiba di hutan Kamyaka sebagai orang yang kalah. Kelima
kesatria ini menjalani hukuman pembuangan selama 12 tahun, ditambah “denda”
setahun untuk penyamaran. Hukuman ini sudah disepakati antara Pandawa dan
Kurawa setelah pertarungan main dadu yang dahsyat di Kerajaan Hastina.
Epos Mahabharata menuturkan, permainan dadu itu penuh kecurangan ditambah
wasit yang memihak salah satu kontestan: Kurawa. Meski tahu dizalimi,
Yudhistira sebagai pemimpin Pandawa tetap meneruskan judi itu. Ia
mempertaruhkan harta benda yang ada. Kalah. Lalu, ketika harta benda ludes,
ia mempertaruhkan istrinya, Drupadi. Semua orang tercengang dan berdebar.
Ternyata juga kalah. Akhirnya Kurawa yang dipimpin Duryudana melucuti
seluruh pakaian Pandawa. Drupadi pun ditelanjangi oleh Dursasana, meski ada
kekuatan Maha Tinggi yang menolong wanita yang tak tahu dirinya dijadikan
taruhan. Kain yang dipakai Drupadi tak ada habis-habisnya sampai Dursasana
lelah.
Kini, di hutan Kamyaka, Pandawa menjadikan kekalahan itu untuk suatu
perenungan panjang tentang arti kehidupan. Yudhistira sangat menghargai
kekalahan itu. Dia meminta adik-adiknya menghormati kekalahan. Jangan
melawan, jangan melakukan protes. Apalagi pembangkangan atau merusak aset
kerajaan. Kalah dan menang adalah akhir sebuah babak perjuangan, tapi
perjuangan itu tak ada habisnya.
Apa yang dilakukan di hutan? Introspeksi. Yudhistira bersama adik-adiknya
melakukan perenungan dengan bimbingan para Bhagawan. Bhagawan Sonaka,
Bhagawan Domya, dan Bhagawan Byasa mengajari Pandawa tentang “ilmu
kebenaran”-bahasa sekarang: berpolitik yang santun. Bhagawan Waka bahkan
menasihati Yudhistira agar mempelajari etika kebrahmanaan (menjadi
negarawan), bukan hanya dunia kesatria (politikus).
Suatu kali, entah menguji atau memprovokasi, Drupadi meminta Yudhistira dan
adik-adiknya pulang ke Hastina dan berperang melawan Kurawa. “Marah sebagai
salah satu sifat manusia, haruslah disalurkan jika ada ketidakadilan,” ujar
Drupadi. Apa jawaban Yudhistira? “Kemarahan harus ditahan karena itu
pangkal kemalangan.”
Drupadi dalam kesempatan lain mengeluh: “Kanda sudah banyak berbuat
kebajikan selama di kerajaan, tetapi kenapa nasib kita begini?” Yudhistira
menjawab: “Berbuat kebajikan adalah kewajiban. Tetapi orang yang berbuat
kebajikan dengan mengharapkan hasil itu namanya pedagang kebajikan.”
Drupadi berkata lagi: “Nasib manusia tak akan berubah jika manusia tak
mengubah sendiri nasibnya.” Bima yang mendengar ini sependapat: “Perang
adalah kebajikan bagi seorang kesatria dan musuh harus kita perangi.” Bima
setuju untuk pulang dan berperang. Tapi Yudhistira menjawab: “Kita harus
taat menjalani hukuman ini karena sudah disepakati lewat perjanjian. Kita
harus hargai kekalahan itu, harus dihargai perjanjian itu, dan harus
dihargai pembuangan ini. Kesatria sejati bukan saja harus mengalahkan
musuh-musuhnya yang ada di luar, tetapi wajib membasmi musuh-musuhnya di
dalam hati.” Perdebatan mereda, dan Pandawa siap belajar menghargai
kekalahan.
Pembaca Mahabharata tahu pasti, Pandawa akhirnya selamat dari pembuangan
dan kembali ke istana dengan kemenangan. Para pemimpin partai dan utamanya
calon anggota legislatif yang kalah dalam pemilu sebaiknya meniru Pandawa,
menerima kekalahan dalam “judi politik” yang mungkin banyak kecurangan ini,
lalu introspeksi. Sebuah sikap yang terhormat dibanding ngeyel atau menarik
sumbangan yang sudah diberikan, yang justru akan menambah stres dan masuk
rumah sakit jiwa.

Apr 20, 2014

pendekar tanpa nama dr celah kledung (novel favoritku) dimuat secara bersambung di suara merdeka

“?!” (Nagabumi I, jurus tanpa bentuk)
Posted on Juli 4,
2012
by Andreas RahardjoJudul
 : Nagabumi I, jurus tanpa bentuk

Nama pengarang  : Seno Gumira Ajidarma

Jumlah halaman  : 815

Penerbit  : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun Terbit  : 2009

*Burwan*

*Pandyakira Tan Pangaran*

*drohaka ring nagara patut patyana denta*

*yan pejaha sirang burwan*

*mas sewu laksa yeka
pakolihanta*[1]

Pendekar dan telaga dunia persilatan. Dua hal itu tidak terpisahkan,
menjadi dongeng yang begitu populer di masa lalu. Kini, di tengah derasnya
arus dunia sastra Indonesia yang diwarnai oleh berbagai unsur modernitas
zaman, Seno Gumira hadir dengan kisah para pendekar dan telaga dunia
persilatan yang arang lagi disentuh.

Nagabumi I berkisah tentang seorang lelaki pendekar berusia seratus tahun
yang tak terkalahkan. Seratus pendekar dibunuhnya dalam waktu satu malam,
sebuah pembantaian yang dikenal kemudian sebagai peristiwa pembantaian
seratus pendekar di usianya yang kelima-puluh. Kejumawaannya telah membunuh
seratus pendekar, baik pendekar golongan hitam, golongan putih maupun
golongan merdeka dengan jurus yang mematikan: jurus tanpa bentuk. Sebuah
jurus yang tidak menyerang fisik, melainkan pikiran. Sejak saat itulah dia
mengundurkan diri dari telaga dunia persilatan. Dia mengembara, menyamar
dan membaur dalam riuh kehidupan kaum awam. Dia pun akhirnya memutuskan
untuk melakukan *samadhi *di sebuah gua terpencil yang tak terjamah oleh
manusia, mengasingkan diri dari riuh-ramai dunia persilatan maupun awam
persilatan.

Dua puluh lima tahun berlalu. Tiba-tiba datang sejumlah pembunuh bayaran
berpakaian serba hitam, mengusik *samadhi *sang pendekar. Para pembunuh itu
tewas seketika di tangannya. Kedatangan para pembunuh bayaran itu membuat
pendekar tanpa nama bertanya-tanya, ada apa gerangan. Dia pun keluar dari
*samadhi*, dan sejak saat itu pula dia diserang oleh begitu banyak pendekar
yang mengincar namanya. Dari sebuah selebaran dia pun mengetahui, dia telah
menjadi buronan pemerintah.

Pendekar tanpa nama semakin penasaran. Dia ingin tahu, apa yang telah dia
perbuat sehingga dia menjadi buronan pemerintah
Mataram[2].
Dia pun memutuskan untuk menyamar sebagai seorang kakek pembuat lontar,
mengerjakan lembar demi lembar daun rontal sembari menuliskan riwayat
hidupnya sejak awal hingga saat itu,menelusuri jejak langkahnya untuk
mencari tahu sebab dari perburuan atas dirinya. Kisah pun berlanjut dengan
perjalanan hidup pendekar tanpa nama, mulai dari masa kecilnya bersama
sepasang Naga[3]
dari
Celah Kledung hingga pengembaraannya ke tanah Kambuja.

Kisah pengembaraan pendekar Tanpa Nama dikemas dengan *apik. *Situasi
politik, sosial dan budaya Mataram Hindhu dihadirkan dengan begitu detil,
membingkai pengembaraan pendekar Tanpa Nama yang berbatasan sangat tipis
antara hidup dan mati. Seno Gumira berhasil membawa pembaca dalam nuansa
epik telaga dunia persilatan di masa lalu, menghadirkan kembali kisah yang
dahulu menjadi dongeng yang melekat erat di benak masyarakat Indonesia.
Penelusuran jejak langkah pendekar Tanpa Nama oleh dirinya sendiri
meninggalkan sebulir titik pada tanda tanya dan seru; sebuah tanya atas
misteri, dan seru atas konspirasi para penguasa Mataram Hindhu di b

Apr 20, 2014

Joke (copas)… Wis tau ya ben… Ra rasional eh lucu ya ben… :)

Gara2 TAKUT perang. Seorang prajurit amerika sedang melarikan
diri, bertemu dgn seorg biarawati, dia berkata,” bolehkah aku bersembunyi
di bawah jubahmu?”

Biarawati itu setuju, tak lama kemudian dua org tentara militer menghampiri
biarawati itu dan bertanya,”apakah km melihat seorg prajurit yg sedang
melarikan diri?”

Biarawati itu menjwb,”ya, dia lari kearah sana..”

Stlh kedua org tentara itu pergi, prajurit itu merangkak keluar dan
berkata,”terima kasih, engkau tlh menyelamatkanku, aku tdk ingin di kirim
ke Syria”

Biarawati itu mengangguk dan berkata,” ya, aku mengerti”

Prajurit itu berkata lagi,”maafkan aku, tp sejujurnya Anda mempunyai
sepasang kaki yg indah”

Biarawati itu tersenyum kecut dan berkata,”kalau kau tadi melihat keatas
sedikit, kau akan melihat sepasang bola.. aku berpakaian spt ini juga
karena tdk ingin di kirim ke Syria..” :&


 ,​

Apr 20, 2014

Obsesi..seket buntet !

Kriteria Istri Idaman :

1. Seorang istri yang cantik, pandai bersolek, memasak & mengurus rumah
adalah yg terpenting.

2. Seorang istri yang periang, bertenaga, dapat membuat kita tertawa &
menghibur dikala duka juga penting.

3. Seorang istri yg memahami, soleh, jujur, taat beribadah & dapat
dipercaya sangat penting.

4. Seorang istri yang dapat memahami & memuaskan anda secara lahir batin di
tempat tidur juga sangatlah penting.

5. Tapi yang terpenting & utama adalah ke empat-empat istri tersebut di
atas tidak saling mengenal satu sama lain.

Guede pb nya
Apr 20, 2014

Guede pb nya

Apr 20, 2014
Hampili kali bi
Apr 20, 2014

Hampili kali bi

Lucius
Apr 20, 2014

Lucius

Apr 20, 2014

Dayu Komang

Dayu Komang

Cerpen Fadmi Sustiwi

Dimuat di Kedaulatan Rakyat 12/05/2004 Telah Disimak 836 kali

”DAYU….” Suara lembut Ktut Sawer itu terasa bagai geledek di telinga
Dayu Komang. Wajahnya langsung pias, ketika matanya bertemu dengan mata
laki-laki Sudra itu. Mata beningnya memancarkan ketakutan. Mata itupun
menari ke sana ke mari, khawatir ada orang yang melihat pertemuan di
supermarket tersebut. Ia tak sanggup, bila harus berlama-lama di situ,
bertemu dan memandang Sawer, lelaki yang bukan hanya dicinta namun juga
sangat dipuja.

Sawer menatap perempuan di depannya dengan hati-hati. Wajah cantik Komang
yang sayu membuatnya menarik nafas panjang. Ada duka yang tak bisa ditutup
di wajah perempuan cantik di depannya. Komang habis menangis. Semalam, Ibu
dan Aji menegur kedekatannya dengan Sawer. Bisik-bisik di luar griya memang
telah sampai ke telinga Ibu dan Aji, Ida Ayu Komang memiliki seorang
kekasih dari kasta Sudra. Darah mereka berbeda, dan ini telah membuat Ibu
dan Aji murka. Dayu Komang seorang putri dari kasta Brahmana, tidak pantas
berdekatan dengan Ktut Sawer, seorang Sudra dari desa.

Mereka bertemu, tapi tak mampu berkata-kata. Sorot mata keduanya
memancarkan rindu dan tanya. ”Haruskah sistem kasta dihapus, kalau ini
hanya akan membuat banyak orang menderita dan berduka?”

***

MATAHARI belumlah sepenggalah. Dayu Komang sudah ke luar rumah tangan
membawa sesajen. Setiap hari ia harus menghaturkan sesajen kepada leluhur,
para dewa dan sebagainya. Sebuah tangkih diletakkan di pintu masuk, sebelum
ia harus berkeliling ke seluruh tempat yang harus diberi sesaji dan
berakhir di Pura. Tampak sangat khusuk ketika ia harus sembahyang di depan
Pura Keluarga. Hyang Widhi, inikah perjalanan yang harus tiang lalui. Apa
nama hidup yang harus tiang jalani ini jika tiang hidup untuk menderita dan
berduka. Kau ciptakan cinta dalam kehidupan, namun cinta itu terlarang
bagiku. Seringkali tiang harus bermain kucing-kucingan untuk mendapatkan
cinta itu… cinta seorang lelaki Sudra….

Seleret mutiara bening meluncur di pipinya yang putih, menunjukkan dukanya
yang mendalam. Namun ia tak mampu menipu diri sendiri. Cintanya pada Sawer
sangat membuncah di dadanya. Dengan lelaki itulah ia mengenal hidup dan
kehidupan. Berdekatan dengan Sawer, sudah membuat tubuhnya selalu merasa
panas dingin. Wajah gantengnya yang menawan banyak perempuan, tidak
menunjukkan jika dia seorang Sudra, kasta paling rendah di dunia ini.

Tapi cinta itu terlarang, bahkan sangat terlarang. Perbedaan di antara
keduanya sangat luar biasa. Jika ia berani nyerot ia akan terbuang dari
keluarga dan mungkin juga akan kehilangan nama, keluarga dan segala-galanya
yang dimiliki sekarang. Inikah hidup yang harus tiang jalani? Haruskah
tiang hidup hanya untuk menunggu laki-laki bangsawan yang siap menjadikan
tiang sebagai istrinya. Karena tiang perempuan, tiang tidak boleh bebas
memilih siapapun yang harus mendampingi hidupku? Karena tiang perempuan,
tiang tidak boleh bebas ke sana ke mari, untuk menentukan siapa laki-laki
yang harus kucintai dan mendampingi hidup tiang?

Wangi dupa mulai tercium. Komang merasa, arwah leluhur mulai datang dan
mendengar sedu-sedannya. ”Dayu jangan melamun… Ia hanya laki-laki Sudra,
darahnya juga tidak sama dengan darah kebangsawananmu….” Suara itu kian
membuat aliran air matanya kian deras saja.

”Ratu”

Komang cepat-cepat mengusap air mata. Ada rasa sedih mendengar Sawer
memanggilnya: Ratu. Panggilan itu terasa kian menjauhkan dirinya dengan
lelaki yang dicinta itu. Dan sosok kokoh di luar pagar yang memandanginya
dengan sorot mata tajam. Wibawa kelelakian yang dilihat membuat wajahnya
tertunduk. Sekilas, bulir bening muncul di matanya. Dia berjalan
meninggalkan Pura dan Ktut Sawer menatap semua itu dengan sakit. Ada luka
yang menganga. ”Hyang Jagat!” pekik Sawer dalam hatinya, ”mengapa Engkau
ciptakan cinta kalau itu hanya membuat luka?”

***

HAMPIR empat tahun Dayu Komang tidak pernah bertemu lagi dengan Ktut Sawer.
Bukan berarti hal itu membuatnya lupa. Cintanya pada laki-laki itu tidak
pernah terkikis. Dalam setiap pemujaan, selalu disisipkan doa untuk Ktut
Sawer. Sampai ia tidak tahu lagi, apa yang mesti diminta pada Hyang Widhi
Wasa. Di manakah sebenarnya ketenteraman dan kebahagiaan bermuara? Ia tak
tahu di mana sebenarnya dan siapa yang menghuni pikirannya selama ini?
Cinta yang ditawarkan Ida Bagus Ananta tidak mampu menghilangkan pikiran
tentang Sawer. Hyang Widhi, sangat ingin rasanya tiang begini saja, sampai
ajal menjemput. Biarkan tiang dengan cinta ini..

Hatinya terasa perih. Tapi kepedihan itu dinikmati. Karena dengan kepedihan
itu bisa mengenang Sawer, cintanya, wibawanya dan juga nafas kelelakiannya
yang selalu menemani setiap malam dan dalam setiap desahnya. Semua
menumbuhkan kenikmatan yang memburatkan senyum. Sampai akhirnya ia harus
menerima kenyataan ketika muncul wajah yang lain, Ananta. Laki-laki yang
dengan sabar mendekati, menyintai dan mengharapkannya. Laki-laki yang bukan
hanya gagah, namun juga memiliki darah kebangsawanan dan menawarkan dunia
nyata yang indah.

”Apa salahnya engkau menerima Ananta? Pendidikannya tinggi dan darahnya
juga tidak berbeda dengan kita?”

”Tiang tidak menyintainya Aji”.

”Cinta? Apa kamu akan cukup makan dan hidup dengan cinta saja? Cinta yang
sesungguhnya bukan hanya lahir dari emosi menggebu, tapi ia rela berkorban,
rela untuk tidak memiliki. Apalagi kalau derajatnya berbeda.”

Kata-kata Aji menusuk hati. Perih tak tertahankan. ”Hyang Jagat!” pekik
Komang tertahan, ”tiang” hanya cinta Sawer, tapi tiang kini tidak tahu
dimana dia berada. Kalaupun tahu, adakah jembatan yang bisa menghubungkan
kami?”

”Bagaimana Jegeg?”

Ada luka lain yang menganga di hati Komang. Perih rasanya. Jiwanya rapuh
dan ia tidak berani lari mengejar cintanya, nyerot. Bukan hanya takut aib,
menurunkan derajat kebangsawanan namun juga mencemarkan leluhur. Dan ia
tidak sanggup.

'Nikahkan tiang dengan Bli. Antana, Aji.” Semburat kebahagiaan memancar di
wajah ayahnya yang renta.

Griya dan Pura mulai dibersihkan. Undangan telah disebar. Dayu Komang
mencoba gembira. Bersama Bagus Ananta, tampak sibuk ikutserta membantu
menyiapkan upacara. Besuk kehidupan baru akan dimulai bersama.

***

TERIAKAN Luh Darmi sore itu mengagetkan semua orang. Koman berlari ke luar
dari kamar, ternganga melihat tubuh Ida Bagus Antana tergeletak, di
pangkuan Luh Darmi. ”Dayu, kemarilah mendekat padaku. Ciumlah aku….”

Tubuh Komang limbung, mendekati Bagus Antana yang lemas tergeletak di
pangkuan Luh Darmi. Didekati tubuh laki-laki tampan yang selama ini
menyuguhkan secawan cinta dan kesetiaan. Ada sesal yang dalam, mengapa
selama ini ia mengabaikan Bagus Antana. ”Tiang datang Bli…,” katanya
sambil menciumi pipi.

Ciuman yang menyesakkan dada Antana. Bertahun-tahun menunggu Komang, untuk
bersedia dinikahi. Kebahagiaan itu hampir menjadi miliknya. Senyum memburat
di bibir tipisnya, pasrah untuk dipanggil Sang Hyang Widhi Wasa.

Ada yang meledak di hati Komang, meluluhlantakkan perasaannya. Ingin
rasanya Komang berteriak, melepaskan kesumpekan, kepedihan hatinya. Liang
lukanya kembali menganga, perih. ”Hyang Jagat!” pekiknya dalam hati,
”karma siapa yang tiang tanggung selama ini?”

Ada rasa sakit luar biasa di hati. Haruskah ia menggugat Sang Hyang Widhi,
Sutradara yang mengatur hidup dan kehidupan?” (terinspirasi dari pertemuan
dengan Dayu Komang di Sanur, 2004). ***

Keterangan:

Griya: nama tempat tinggal bangsawan, kasta Brahmana.
Sudra: orang kebanyakan, rakyat jelata, kasta terendah.
Dayu: berasal dari kata Ida Ayu, gelar bangsawan perempuan Bali.
Tangkih: alat upacara yang terbuat dari janur.
Tiang: saya.
Ratu: panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali.
Aji: ayah.
Bli: saudara laki-laki.
Jegeg: cantik.
Nyerot: perempuan bangsawan yang kawin turun kasta..

Apr 20, 2014

mancing di waduk sempor

MANCING DI WADUK SEMPOR ( Gombong / Kebumen )
@El Fhivi Arvianto
厄爾尼諾愛維安
GANASNYA LOUHAN HIJAU



Hari Sabtu aku berangkat ke Banjarnegara bersama istri dan rekan mancingku,
rencananya aku dan istriku akan bermalam dirumah mertuaku di Banjarnegara,
karena Minggu pagi aku merencanakan mancing di waduk Sempor. Selama ini aku
belum pernah mancing di waduk Sempor. Waktu kecil aku memang pernah
mengunjungi waduk ini, tapi bukan untuk mancing. Melainkan hanya plesiran
bersama keluargaku. Sekarang aku punya kesempatan menjajal peruntungan di
Sempor. Selama ini, aku hanya dengar dari rekan-rekan mancing mengenai
situasi di Sempor. Tentang ikan Mas, Nila, Louhan dan Bawalnya.. Katanya
sekarang susah cari ikan besar di waduk Sempor. Dulu waktu aku kecil sering
mendengar tetanggaku mancing di waduk ini dapat ikan Mas segede paha orang
dewasa. Mungkin aku terlalu terobsesi cerita masa kecil tentang tetanggaku
yang bisa strike ikan Mas besar. Tapi untuk jaman sekarang jangan harap
dapat strike heboh.. Tapi tak apalah, yang penting aku sudah memiliki
pengalaman mencing di waduk Sempor. Apapun hasilnya yang penting mancing…
Sekalian tambah pengalaman di tempat-tempat baru. Toh niat aku memancing
bukan semata untuk dapat ikan. Mancing hanyalah caraku refresing dari
kesibukan kerja yang tak ada habisnya. Kalau mau ikan gede mah gampang…!!
Di pasar juga banyak… Heheheheeee…..
Pagi hari jam 06.00 WIB aku menyusuri jalan raya Banjarnegara-Purwokerto
menuju waduk Sempor. Sampai di kecamatan Mandiraja aku berbelok ke arah
selatan melewati Gandulekor. Perjalanan naik turun bukit dan berkelok-kelok
kira-kira sejauh 30 km. Ternyata pemandangan di wilayah ini terasa alami
sekali. Terutama sesaat ketika menjelang masuk area waduk. Aku memasuki
area hutan pinus milik Perhutani. Hawa sejuk terasa banget… indahnya
suasana di sini…

Sungai
Sampang bagian hilir yang mengalir ke waduk Sempor

Mobilku menyusuri jalanan yang di pinggirnya mengalir sungai berbatu-batu.
Airnya keruh, mungkin karena hujan semalaman. Sampang nama sungainya…
Dari sungai inilah pasokan air waduk Sempor berasal.. Melihat situasi
eloknya sungai Sampang, kuputuskan mencoba mancing di sungai ini… Siapa
tau aku bisa dapat ikan yang belum pernah aku temui. Bisa untuk menambah
penghuni aquariumku.. Heheheehee….
Begitu aku celupkan kailku, umpanku cuma diserang ikan-ikan kecil jenis
waderan (Puntius Binotatus) dan orang Banjar bilang ikan “Kakul”.. Setelah
hampir satu jam dapatnya hanya ikan kakul terus.. Akhirnya kuputuskan
meneruskan perjalanan ke waduknya…

Sungai
Sampang dari atas jembatan