The Latest

Soto kemiri
Sep 1, 2014

Soto kemiri

Pecel
Sep 1, 2014

Pecel

Panen kakap merah table size
Sep 1, 2014

Panen kakap merah table size

Sep 1, 2014

Cara menentukan berat / bobot ikan bila tidak membawa timbangan

Cara menentukan berat / bobot ikan bila tidak membawa timbangan

Peraturan IGFA (International Game Fish Association) mengharuskan berat
ikan ditimbang didarat dan menggunakan timbangan, dalam menyampaikan klaim
terhadap rekor dunia versi IGFA. Hal ini agak sulit dilakukan apabila tidak
tersedia timbangan yang tepat untuk mengukur berat ikan berukuran yg cukup
besar diatas 3 kg lah minimal sebaiknya .

Ada rumus yang dapat digunakan untuk memperkirakan berat ikan, yang sudah
terbukti selama bertahun-tahun lamanya mendekati berat ikan yang
sebenarnya. Walaupun tentu saja berat ikan hasil hitungan tidak sah apabila
digunakan untuk klaim rekor.
Formula ini adalah metode terbaik untuk memperkirakan berat kan secara
akurat pada ikan besar baik berparuh ataupun tidak ( lihat gambar cara
mengukur jenis ikan )

Satuan pengukuran semua dalam inches tetap hasil akhir berupa berat dalam
pound dan dapat pula di konversikan kedalam kilogram .

Rumusnya : Girth (inch) kwadrat X Panjang (inch) / 800 = Perkiraan berat
ikan (pounds)

Girth adalah lebar ikan diukur pada bagian paling besar, dalam inch.
‘Girth” adalah keliling besarnya badan ikan, diukur pada bagian badan ikan
yang paling tebal misalnya pada dada dibagian belakang insang. Diukur
kelilingnya, jadi bukan hanya lebarnya saja. Panjang ikan diukur dari
rahang bawah, sampai bagian sudut pada ekor, dalam inch. Hasilnya dalam
Pounds, dimana 1 Kg = 2.204623 Pounds.

Hitung lebar / lingkar badan ikan pada bagian yg paling gemuk dan hasilnya
dikuadratkan
Setelah itu hasil yg telah di kuadratkan dikali-kan dengan panjang ikan (
lihat gambar dan contoh perhitungan illustrasi )
Hasilnya dibagi dengan 800 untuk dapatkan berat dalam satuan pound / Lbs .
Bila mau di konversikan menjadi Kg maka hasil dalam pound / lbs : 2,204623
= KG

Contoh perhitungan ilustrasi :

a. Lingkar badan ikan 3 feet 4 inches = ( 3 feet x 12 inches = 36 inches +
4 inches hasilnya = 40 inches.
b. Panjang ikan 8 feet 4 inches = ( 8 x 12 inches = 96 + 4 inches hasilnya
= 100 inches.
Lingkar badan ikan di kuadradkan hasilnya = 40 x 40 =1600 inches x panjang
ikan . Hasilnya = 1600 x 100 inches = 160.000 inches dibagi 800 = 200 pound
/ lbs .

Untuk hasil dalam kilogram, hasil akhirnya dibagi dengan 2.204623. jadi 200
lbs : 2.204623 = 90.718 kg

Semoga bermanfaat

Dari beberapa sumber

Hampili jogja on spoon
Aug 31, 2014

Hampili jogja on spoon

Bojor
Aug 31, 2014

Bojor

Iga
Aug 31, 2014

Iga

Menyampung PE dg leader yg besar
Aug 31, 2014

Menyampung PE dg leader yg besar

From: *syauqiyahya*

SAVE HERITAGE IN MAGELANG !

http://topengireng.wordpress.com/2011/07/19/save-heritage-in-magelang/

By topengireng

Plengkung - Terowongan Kuno yang masih berdiri kokoh di tengah Kota Magelang
sedikit obrolan dengan mas Bagus Priyana
link berita :
http://travel.kompas.com/read/
​2011/07/18/20000673/Magelang.P​romosikan.Bangunan.Tua

TOPENG IRENG (TI) : berapa banyak bangunan kuno yang HANCUR tinggal sejarah
dan cerita?

Bagus Priyana (BP) :
Yang berubah/direnovasi tanpa memperhatikan estetika sebagai BCB/Benda
Cagar Budaya sbb :
Sebagian kawasan Kwarasan Cacaban, Eks Karesidenan Kedu, Museum Sudirman,
RSJ Kramat, RSU, Kawasan Sriwijaya, GKJ Bayeman, Polresta Magelang, Eks
Polwil Kedu, bbrapa rumah tinggal di Jalan Bayeman, Gladiool, Poncol, Jalan
Pahlawan, Badaan, Kawasan blok Rindam, Plengkung Lama & Tengkon, Kawasan
Kejuron, Kawasan Van der Steur. .dll. .

Yang hilang atau akan dihilangkan dan tinggal cerita sbb:
Gemeente huis/balaikota praja, bioskop Al hambra, bioskop Kresna, Pegadaian
Pasar, Stasiun Kota/Kebonpolo, Societet, Hotel Loze, Hotel Pension Olga,
Eschompto Bank, Kantor Pengadilan/Bank Jateng, Rumah
Bupati/Regentwoning/BPLK, Bioskop Roxy/GARDENA, beberapa rumah di kawasan
Diponegaran, Poncol, Pecinan n Bayeman, kawasan Van der Steur, dll

Yang masih terjaga 70% ke atas sbb :
Menara Air, GPIB, gereja wates, bbrp bangunan di RST, Tugu ANIEM, guest
house Wisma Diponegoro, bbrp rumah di blok Rindam, SMIP WIYASA, kantor
Catatan Sipil kab. MAGELANG, . .sebuah rumah di Kauman, kwarasan,
Tarakanita, eks gedung KR Poncol, beberapa rumah di Poncol dan jalan Tidar.
.

TOPENG IRENG (TI) : jadi … bagaimana menyikapi berita/ wacana di link itu
dengan KONDISI REAL DI LAPANGAN?

Bagus Priyana (BP) : Pesimis bung… lihat saja sejak UNDANG2 tentang
Benda Cagar Budaya no 5 th 1992 dan di ‘renovasi’ dengan UU tentang Cagar
Budaya no 11 th 2010 membuktikan bahwa pemerintah kota tidak serius dalam
upaya pelestarian BCB… masak hampir 20 tahun tidak ada Perda yang
keluar ? …aneh banget to… seperti pemerintah daerah hanya berwacana
melulu…aapa nunggu bangunan tua itu habis ? . . SAVE HERITAGE IN
MAGELANG !

Karena itu Saya dengan temen2 pecinta heritage di Magelang membentuk
komunitas KOTA TOEA MAGELANG dengan tujuan di bidang penggalian info
sejarah/HISTORY dan pelestarian cagar budaya/HERITAGE di Magelang. . Gabung
yuk. .

KOTA TOEA MAGELANG @ FACEBOOK

http://www.facebook.com/groups/128356500529153
Aug 31, 2014

From: *syauqiyahya*

SAVE HERITAGE IN MAGELANG !

http://topengireng.wordpress.com/2011/07/19/save-heritage-in-magelang/

By topengireng

Plengkung - Terowongan Kuno yang masih berdiri kokoh di tengah Kota Magelang
sedikit obrolan dengan mas Bagus Priyana
link berita :
http://travel.kompas.com/read/
​2011/07/18/20000673/Magelang.P​romosikan.Bangunan.Tua

TOPENG IRENG (TI) : berapa banyak bangunan kuno yang HANCUR tinggal sejarah
dan cerita?

Bagus Priyana (BP) :
Yang berubah/direnovasi tanpa memperhatikan estetika sebagai BCB/Benda
Cagar Budaya sbb :
Sebagian kawasan Kwarasan Cacaban, Eks Karesidenan Kedu, Museum Sudirman,
RSJ Kramat, RSU, Kawasan Sriwijaya, GKJ Bayeman, Polresta Magelang, Eks
Polwil Kedu, bbrapa rumah tinggal di Jalan Bayeman, Gladiool, Poncol, Jalan
Pahlawan, Badaan, Kawasan blok Rindam, Plengkung Lama & Tengkon, Kawasan
Kejuron, Kawasan Van der Steur. .dll. .

Yang hilang atau akan dihilangkan dan tinggal cerita sbb:
Gemeente huis/balaikota praja, bioskop Al hambra, bioskop Kresna, Pegadaian
Pasar, Stasiun Kota/Kebonpolo, Societet, Hotel Loze, Hotel Pension Olga,
Eschompto Bank, Kantor Pengadilan/Bank Jateng, Rumah
Bupati/Regentwoning/BPLK, Bioskop Roxy/GARDENA, beberapa rumah di kawasan
Diponegaran, Poncol, Pecinan n Bayeman, kawasan Van der Steur, dll

Yang masih terjaga 70% ke atas sbb :
Menara Air, GPIB, gereja wates, bbrp bangunan di RST, Tugu ANIEM, guest
house Wisma Diponegoro, bbrp rumah di blok Rindam, SMIP WIYASA, kantor
Catatan Sipil kab. MAGELANG, . .sebuah rumah di Kauman, kwarasan,
Tarakanita, eks gedung KR Poncol, beberapa rumah di Poncol dan jalan Tidar.
.

TOPENG IRENG (TI) : jadi … bagaimana menyikapi berita/ wacana di link itu
dengan KONDISI REAL DI LAPANGAN?

Bagus Priyana (BP) : Pesimis bung… lihat saja sejak UNDANG2 tentang
Benda Cagar Budaya no 5 th 1992 dan di ‘renovasi’ dengan UU tentang Cagar
Budaya no 11 th 2010 membuktikan bahwa pemerintah kota tidak serius dalam
upaya pelestarian BCB… masak hampir 20 tahun tidak ada Perda yang
keluar ? …aneh banget to… seperti pemerintah daerah hanya berwacana
melulu…aapa nunggu bangunan tua itu habis ? . . SAVE HERITAGE IN
MAGELANG !

Karena itu Saya dengan temen2 pecinta heritage di Magelang membentuk
komunitas KOTA TOEA MAGELANG dengan tujuan di bidang penggalian info
sejarah/HISTORY dan pelestarian cagar budaya/HERITAGE di Magelang. . Gabung
yuk. .

KOTA TOEA MAGELANG @ FACEBOOK

http://www.facebook.com/groups/128356500529153

Aug 31, 2014

Legowo

From: *A.Syauqi Yahya*


MINGGU, 24 AGUSTUS 2014 | 00:09 WIB

Legawa

Putu Setia
ROMO Imam punya mainan baru: gadget dengan perangkat BlackBerry Messenger.
Dia meminta saya menghubungi untuk sekedar latihan. Setelah perangkat saya
tersambung, saya pun menulis asal-asalan tanpa mikir: “Rahajeng Romo, salam
buat Mas Prabowo.”
Saya lupa apa yang saya tulis ketika Romo membalasnya: “Ah, jangan
ngomongin Prabowo. Dia harus dikasihani. Dia sudah berjuang keras
membesarkan partainya. Masyarakat pun menaruh harapan karena partainya
nasionalis dan bisa jadi alternatif dari partai-partai nasionalis lainnya.
Dia hanya salah cari dukungan ketika ingin menjadi presiden. Dia
dijerumuskan oleh partai yang berasaskan agama. Dan semakin terjerumus
ketika masuk pengacara yang memang sudah tabiatnya suka memanas-manasi demi
numpang popularitas.”
Waduh, Romo menulis pesan kok seperti menulis artikel, saya membatin. Saya
merespons pendek dengan niat Romo mencontoh pesan saya: “Terus saran untuk
Prabowo, apa?”
Setelah lama menunggu, datang balasan. Woo, tetap panjang: “Prabowo harus
legawa menerima keputusan Mahkamah Konstitusi. Jika ia menuruti saran
pengacara menggugat lewat PTUN dan Pengadilan Negeri, itu tak ada gunanya.
Tak ada kaitan dengan sah-tidaknya presiden terpilih menurut konstitusi.
Obyek gugatannya hanya ke Komisi Pemilihan Umum. Pengacara itu biasa
menafsirkan hukum dengan tujuan memperpanjang perkara, itu kan ladang
penghasilannya. Yang rugi Prabowo namanya semakin jelek. Semakin
berlama-lama semakin terpuruk, dia dan partainya pun bisa ditinggal rakyat.
Sekarang saja banyak yang menyesal memilih dia. Semua sudah selesai. Titik.”
Karena Romo menulis “titik”, saya maunya tak menjawab. Tapi, takut dikira
pesannya tak sampai, saya pun menulis: “Baik, Romo, saya setuju.” Eh, Romo
membalas lagi, tetap panjang: “Prabowo harus mengucapkan selamat kepada
Jokowi, itu etika seorang kesatria, meski siap berada di luar pemerintahan.
Koalisi permanen tak usah dilanjutkan karena memang beda betul asas dan
perjuangan partainya. Lebih baik konsolidasi partai, siapkan kader yang
baik untuk pemilu legislatif dan pemilu presiden yang serentak lima tahun
lagi. Prabowo tak perlu maju. Jika kadernya berhasil lolos, apalagi
memenangi presiden, dia yang dapat nama dan bisa jadi penentu kebijakan.
Sapa rakyat dengan hati, bukan diajak turun ke jalan-jalan mengganggu
pemerintahan. Aksi jalanan sudah kuno. Rakyat membutuhkan aksi bersama, ke
desa menanam pohon, memperbaiki irigasi, membina pengusaha kecil, dan
seterusnya. Sebagai mantan Ketua Kerukunan Tani dan Nelayan, Prabowo tahu
itu.”
Sekarang saya sudah tak berniat menjawab Romo Imam. Toh, dia sudah tahu
cara menulis dan mengirimnya. Tak sangka, sejam kemudian masuk lagi
pesannya. “Selamat untuk Jokowi dan Jusuf Kalla. Saya kira Jokowi akan
pusing antara memilih menteri profesional dan menjaga suasana kebatinan
para pimpinan partai koalisinya. Sekarang ini, siapa sih yang tak ingin
jabatan? Biarkan Jokowi bekerja, mari kita dukung. Oya, SBY bagaimana?
Katanya sering menulis di Twitter. Ajari dong Romo ngetuit.”
Saya kaget. Bukan soal Jokowi, tapi yang terakhir itu. Langsung saya jawab:
“Romo jangan ikut-ikutan ngetuit, bikin pesan BBM saja kepanjangan. Ngetuit
itu terbatas kata-katanya. Salah menyingkat bisa muncul salah paham. Nanti
Romo bisa dipanggil mas atau kamu, belum lagi ketemu kata-kata kasar, kan
banyak yang nama jadi-jadian. Risiko besar kalau ulama seperti Romo punya
akun Twitter, nanti di-bully.” Saya tak tahu apakah Romo Imam paham apa
yang saya maksudkan.