The Latest

Sep 23, 2014

piye

Sak jane bu kapolda ngejak brengkal,
Neng kowe nglimpe tetep uncal,
Wes firasat iwak ora bakal nguntal,
Paling pol gur oleh iwak buntal,
Tekan ngomah wes mesti ngarep lawang di cepak’i bantal,
Cen nasip agi sial,
Ealah dasar gombaaaaal gombal,

Jane ono lho seng nasipe ngono kui Gkgkgkgkgk ahihiiiii huwahahacwuk. ….

Sep 23, 2014

Casper dan poni bibless

Sep 22, 2014

Adi

SENIN, 22 SEPTEMBER 2014

Adi

Laki-laki tua yang jangkung dan bermuka keras itu, yang hidup dengan seekor
monyet kecil di sebuah gubuk, bercerita dengan suara yang masih ganas
tentang bagaimana ia membunuh. “Aku tebas buah dada perempuan itu; dari
akar putingnya mengalir air susu. Lalu aku potong lehernya….”
Dokumentasi tentang kekejaman di Indonesia sekitar 1965 bertambah-dan bisa
bertambah. The Look of Silence, film baru Joshua Oppenheimer, semacam
sambungan dari filmnya yang terdahulu, The Act of Killing, kini sudah
beredar secara terbatas. Dalam rekaman seperti yang saya kutip, dari
ingatan, Oppenheimer menunjukkan keunggulannya sebagai pembuat film
dokumenter dan keunggulan seseorang yang datang mengusik hati kita dengan
pertanyaan.
Tentu ia bukan orang pertama dalam perkara ini. Pada Agustus 1969, majalah
Horison memuat tulisan Usamah, “Perang dan Kemanusiaan”. Tulisan ini,
nonfiksi, begitu menarik perhatian hingga diterjemahkan ke dalam jurnal
akademik Indonesia dari Cornell University. Di dalamnya kita baca kesaksian
seorang muda, penulis yang antikomunis, yang dengan hati terbelah terlibat
dalam penangkapan, penyekapan, dan pembunuhan orang-orang yang dituduh
komunis-termasuk teman-temannya.
Buat menerbitkan kesaksian seperti ini ketika “Orde Baru” mulai efektif
perlu keberanian tersendiri. Tapi waktu itu Horison tampak ingin membuka
pintu Indonesia yang luas. Di sana pula terbit cerita pendek Umar Kayam,
“Musim Gugur Kembali di Connecticut”, yang dengan kalimat-kalimat pendek
dan tenang menyentuh hati: seorang intelektual kiri yang tak berbuat
apa-apa dibunuh dalam pembasmian yang meluas di tahun 1960-an itu.
Sastra Indonesia tampaknya medium yang memulai pengungkapan sejarah yang
tragis setengah abad yang lalu itu: ada novel Yudhistira A.N.M. Massardi
Mencoba Tidak Menyerah, trilogi Ahmad Tohari, dan kemudian, dua tahun lalu,
Pulang Leila S. Chudori dan Amba Laksmi Pamuntjak. Luar sastra menyusul:
majalah Tempo 1-7 Oktober 2012 merekam pertemuan dengan para pelaku
pembantaian….
Bahwa The Act of Killing yang paling menyentak kita, mudah dipahami: film
selalu lebih menjangkau orang banyak, dan sebuah film dokumenter tentang
sejarah yang setengah terpendam selalu mengejutkan, apalagi datang dari
luar. Maka The Act of Killing lebih menarik perhatian ketimbang Sang
Penari, film Indonesia pertama yang, berdasarkan fiksi Ahmad Tohari,
Ronggeng Dukuh Paruk, menampilkan kekerasan “anti-gestapu” tahun 1960-an.
The Look of Silence agaknya tak akan kalah kontroversial ketimbang
pendahulunya-dan bagi saya lebih menggugah.
Kebuasan yang digambarkannya di Deli Serdang, Sumatera Utara, tidak hanya
dilakukan satu orang. Berbeda dengan The Act of Killing, ia tak diselingi
khayal surealistis dengan humor yang seram dan potret-potret preman hari
ini; dalam The Look of Silence tak ada permainan antara imajinasi dan
rekonstruksi. Bahan utamanya wawancara, praktis tanpa intermezo. Kata-kata
terus terang, telanjang, brutal.
Sepasang laki-laki tua mendemonstrasikan bagaimana mereka, hampir setengah
abad yang lalu itu, mengerat kemaluan korbannya dari pantat, sebelum
menikam merihnya dan menyepak tubuhnya ke sungai. “Aku minum darah orang
yang aku potong,” kata seseorang yang lain, “agar aku tidak gila.” Darah
manusia manis-manis asam, katanya dengan muka yang selalu tegang. “Aku
minum dua gelas. Kuambil dari bagian tenggorokan.”
Di manakah selama ini bagian yang terpendam, ganas, dan merisaukan dari
sejarah Indonesia ini? Malukah kita mengakuinya? Atau takut? Atau tak tahu?
Atau tak peduli?
Tokoh di pusat The Look of Silence adalah Adi. Di masa penuh darah itu
kakaknya, Ramli, ditangkap dan dibantai dengan bengis. Adi, yang lahir
setelah pembunuhan itu, hanya mendapat ceritanya dari ibunya yang masih
menyimpan dendam yang getir. Pada suatu hari Adi melihat rekaman pengakuan
dua laki-laki yang membunuh orang-orang komunis. Kita tak tahu bagaimana ia
mendapatkan video itu, tapi sejak itu laki-laki itu pun mencari jawab,
menemui orang yang terlibat-dan tak mendapatkan apa-apa, selain kisah
kebiadaban yang dilakukan sesamanya.
Adi, seperti kita, menuntut penyesalan para pembunuh. Tapi sia-sia. Dan
itulah yang merisaukan. Bagi kita kekejaman mereka secara universal patut
dikutuk, tapi jangan-jangan antara kita dan mereka tak ada dasar bersama
untuk menuntut sesal. Jangan-jangan apa yang biadab, apa yang beradab, ada
di kepala dengan dunia masing-masing.
Film ini tentu tak bertolak dari asumsi itu. Bagi Adi dan Oppenheimer,
kebuasan itu sangat terbuka, sangat terang-benderang, buat dihakimi. Tapi
tampaknya tak segampang itu. Ada dunia lain yang belum tertembus.
The Look of Silence amat kuat berbicara tentang apa, kapan, dan bagaimana.
Tapi film ini tak cukup menggambarkan mengapa dan siapa. Tak banyak
informasi tentang latar sosial Adi dan Ramli. Penonton yang berbahasa Jawa
akan tahu, orang tua Adi datang dari Jawa, tapi justru akan bertanya
mengapa mereka hidup di Deli Serdang dan apa yang mereka lakukan. Apa yang
Ramli lakukan? Adakah ia seorang aktivis komunis-dan apa artinya itu bagi
para pembunuhnya: bagaimana genealogi kebuasan itu? Dari mana datangnya?
Hanya karena perintah dan propaganda aparat kekuasaan? Mungkinkah laku yang
sekeji itu-yang terus mereka banggakan-terbit tanpa kebencian yang bersemai
dalam pribadi dan tubuh sosial?
Hari-hari ini kebencian masih berkecamuk dan kita tak tahu kenapa,
kebiadaban masih dibanggakan dan kita tak tahu apa sebabnya. The Look of
Silence akan berjasa besar jika bersamanya kita ingat, ada pertanyaan yang
gawat dan belum terjawab itu. Tak hanya di Indonesia.

Goenawan Mohamad

Sep 22, 2014

Kabinet

MINGGU, 21 SEPTEMBER 2014 | 00:37 WIB

Kabinet

Putu Setia
Kaget juga saya ketika dipanggil Romo Imam untuk membicarakan masalah
pekerjaan. Mau bekerja apa lagi sudah tua begini? Ternyata yang dimaksudkan
adalah rencana anaknya yang akan membuat percetakan kecil-kecilan dan
pembuatan papan nama. “Begitu Jokowi dilantik sebagai presiden, usaha ini
akan kebanjiran order,” kata Romo.
Saya biarkan Romo menjelaskan lebih gamblang. “Jokowi sudah mengumumkan
struktur kabinetnya. Beberapa kementerian berganti nama dan ada kementerian
baru. Semua ini mempengaruhi hal-hal kecil tetapi besar biayanya. Papan
nama semua sekolah berganti huruf. Dari Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan menjadi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Di Bali ada
dua ribuan desa, kalau di setiap desa ada tiga sekolah dasar, itu sudah
berapa ribu papan nama berganti.”
“Tapi kan tak harus ganti, Romo, tinggal dihapus dan ditulis ulang,” kata
saya seadanya. Romo tertawa: “Papan namanya sudah rusak terlalu sering
diganti. Dulu Departemen Pendidikan Nasional, lalu Kementerian Pendidikan
Nasional, terus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.”
Saya baru sadar ada hal sepele begini. “Surat-menyurat pasti diganti pula.
Kop surat, amplop, map, kuitansi, juga kartu nama para guru,” kata Romo.
“Cetak-mencetak yang kecil ini tak praktis di percetakan besar. Pasti yang
dicari percetakan dengan mesin kecil. Ini baru satu kementerian. Belum lagi
kementerian baru seperti Kementerian Agraria. Berapa juta brosur akta
transaksi tanah harus dibuat ulang untuk mengganti Badan Pertanahan Negara
menjadi Kementerian Agraria. Wow, bisnis yang menguntungkan.”
“Apakah Jokowi tak menghitung biaya ini?” saya bertanya. Romo menjawab,
“Saya kira Jokowi terlalu idealis sehingga lupa hal-hal kecil. Bahkan dia
juga lupa betapa sulitnya menyusun kabinet dalam sistem politik di
Indonesia di mana partai-partai berjuang untuk kekuasaan dan bukan berjuang
untuk kesejahteraan rakyat. Jokowi boleh berkata: jangan pisahkan saya dari
rakyat, akan menjadi presiden rakyat dan seterusnya. Tapi kenyataan yang
sudah dan akan dia hadapi lain. Dia adalah presidennya partai, karena
partai yang mendukungnya dan partai pula yang menentukan apakah programnya
untuk rakyat berjalan atau tidak. Parlemen itu kan perpanjangan partai.”
Karena Romo sudah “berpolitik”, saya lebih baik diam. “Jokowi merampingkan
kabinet saja gagal. Koalisi tanpa syarat juga gagal karena partai sudah
dijatah 16 menteri. Rangkap jabatan menteri dengan pengurus partai pun bisa
gagal. Muhaimin Iskandar dan Puan Maharani sudah jelas menolak. Mau melawan
Muhaimin ya pasti riskan, kalau dia ngambek, kekuatan Jokowi di parlemen
makin ambruk. Justru Jokowi harus merangkul partai di seberang untuk
memperkuat parlemen dan untuk itu iming-imingnya apalagi kalau bukan kursi
menteri. Bagaimana bisa bilang tanpa syarat? Di negeri ini, syarat dan
ketentuan berlaku.”
Romo tertawa dan saya hanya tersenyum. “Jokowi lebih baik bicara soal
penghematan yang riil. Misal, enggak usah beli mobil baru untuk menteri,
memangkas perjalanan dinas dan rapat menteri. Iritlah bicara soal figur
menteri, nanti bisa jadi bumerang. Untuk bicara profesional pun saya pikir
tak usah diteruskan. Kriterianya sulit. Ada bankir sukses ternyata insinyur
elektro. Ada wartawan profesional ternyata lulusan institut pertanian
dengan skripsi tahi kambing untuk pupuk. Apalagi profesional partai, ini
istilah mengada-ada. Jokowi lebih baik membangun komunikasi dibanding
terjebak istilah-istilah sesaat.”
Saya terus diam dan menduga Romo lupa kenapa saya datang.

Sep 22, 2014

Making Love

One day in a classroom.
Teacher : “What is the opposite of laughing?
Student : “Making Love”.
Teacher : “What? why is that?”
Student : “Laughing is HA… HA… HA… but making love is AH… AH…
AH…
Curiously, the teacher ask another question: “What is the opposite of
crying?
Student : “Still Making Love madam”
Teacher : “Now will you explain why you keep answering with that again?”
Student : “Crying is HU… HU… HU… but making love is UH… UH… UH…
Anxiously, the Teacher ask another question: “What is the opposite of Santa
Claus? The same student : “Still Making Love madam…
Teacher : “What a bloody nasty kid… now tell me what your reason
is?”
Student : “When santa came up, he always say HO… HO… HO… but making
love is OH… OH… Oh -J :p.

Good Morning Amigos…..

Grup gtc
Sep 22, 2014

Grup gtc

Sep 22, 2014
Sekedar lauk sederhana
Sep 22, 2014

Sekedar lauk sederhana

Sep 22, 2014
Sep 22, 2014